7. Rini Nurul Badariah:
Sesuai pertanyaan Kang Sigit, saya akan khusus membidik cerita
penerjemahan novel Prancis saja.
Jujur, saya deg-degan sewaktu nekad melamar sebagai penerjemah bahasa
Prancis freelance dan mengajukan diri untuk dites via email. Betapa
tidak, roman Prancis yang saya kenal semasa kuliah sarat dengan
filsafat. Saya enggan menyentuh Madame Bovary, Genial dan La Peste
yang kemudian dijadikan bahan telaah skripsi seorang teman seangkatan.
Itulah yang mendorong saya memilih linguistik sebagai spesialisasi di
semester ke-7. Tapi saya suka beberapa karya Guy de Maupassant dan
Victor Hugo yang dipelajari semasa kuliah Pengantar Kajian Sastra
dahulu.

Syukurlah, naskah tes yang diberikan sangat menarik. Senjata yang
sudah lama tidak dipergunakan, kamus Labrousse, keluar dari kandang.
Kerinduan pada bahasa yang saya pelajari selama 7,5 tahun di kampus
ini membuahkan semangat menyala-nyala untuk berimprovisasi dan
mengerahkan kreativitas berolah kata. Sebelum
mengirimkan hasil tes itu, saya mengubah kalimat pembuka supaya lebih
memikat dari asalnya ‘pagi baru saja tiba’ menjadi
(kira-kira)’matahari belum terang sempurna’. Dan saya bersyukur karena
naskah yang diujikan itulah yang dikerjakan kemudian, setelah saya
dinyatakan lulus tes.

Penggarapan selama satu bulan setengah sangat padat. Saya mulai dengan
mendaftar kata-kata sulit lebih dulu, yang kebanyakan idiom. Sebagian
terdapat di kamus Prancis-Prancis, dan saya pun kerja dobel untuk
memeriksa hasil yang diperoleh dari kamus Prancis-Indonesia. Kamus
Larousse Compact cukup membantu karena disertai gambar dan peta,
karena naskah yang saya kerjakan kaya unsur budaya dan religi. Di
sela-sela tahap awal (penerjemahan kasar), saya menggali referensi
online dan bertanya sana-sini. Khususnya kepada sesama penerjemah non
Inggris.
Bila disebut ruwet, jelas. Semasa SMA saya belajar bahasa Jerman
selama dua tahun (meski kini tinggal samar-samar) dan bahasa Prancis
memiliki kesukaran khas dalam kala Passe Simple. Saya berterima kasih
kepada para pengajar yang memaksa kami dahulu untuk berulang-ulang
berlatih konjugasi dan menjawab soal mengenai Temps ini, walaupun
cukup membuat stres. Sudah barang tentu, dalam fiksi pun kalimat
ber-temps Passe Simple bertaburan. Namun peralihan antara deskripsi
panjang dan dialog membuat ‘suasana’ menerjemahkan (yang saya rasakan
sebagai pengalaman membaca) tidak monoton.

Saya berkesempatan menggunakan metode sendiri (mungkin ada juga yang
sudah melakukannya), yakni membaca novel dengan tema sejenis. Saya
menjadikan novel tersebut sebagai patokan untuk mengalihbahasakan
dengan lebih baik dan mengena (mudah-mudahan).
Setelah penerjemahan selesai, saya mendapat ilmu yang sangat banyak.
Apa lagi dibantu editor yang jeli dan gemar berdiskusi mengenai rasa
bahasa.
Itu saja cerita saya.

Salam,
Rini Nurul Badariah
http://rinurbad.multiply.com
http://sinarbulan.multiply.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: