(1)
mungkin sebelum mulai saya perlu koreksi satu hal dulu, saya sudah tidak

lagi menerjemahkan cil-nya eka. ceritanya mungkin ada relevansinya dengan

hidup penerjemah indonesia, begini: saya waktu kerja jadi editor di

metafor pernah menawarkan menerjemahkan cil buat eka, untuk diterbitkan

metafor juga waktu itu. sempat saya kerjakan satu bab, kemudian metafor

bangkrut. saya pindah kerja ke jurnal perempuan. karena gaji kecil dan

aktivisme lsm yg berlebihan, saya tidak punya waktu utk menerjemahkan cil

kecuali di sela2 menerjemahkan proposal untuk cari dana buat kampanye

gender budgeting dan menyiapkan kostum aa gym untuk demonstrasi

anti-poligami di bunderan hi. selama hampir setahun saya hanya sempat

menyelesaikan satu bab lagi. ternyata bab yg pertama yg sudah saya

terjemahkan pernah ditawarkan oleh sigit susanto kepada penerbit swiss yg

tertarik dan ingin minta sisa bukunya. gramedia, yg ternyata memegang hak

terjemahan cil, kemudian berpikir untuk membayar saya untuk menerjemahkan

sisanya. sebelum itu saya sudah menjelaskan kepada eka kalau untuk

menerjemahkan cil tidak mungkin hanya di sela2 kerja kantoran 9 to 9,

hanya mungkin kalau full time. sayang harga yg ditawarkan gramedia membuat

saya tertawa. dan alasan bahwa itu sudah di atas standar, itu membuat saya

tertawa lebih keras lagi. (harga tawaran maksimum mereka 30 ribu/halaman,

dan standar mereka tentu gak dibilangin berapa, menurut rumours sih bisa

turun sampai 15-17 ribu. no offense, mirna, i know yr hands are tied.)

jadi sekarang berhentilah usaha saya menerjemahkan cil itu. sayang, karena

saya suka sekali cil. lucu seperti don quixote. jadi ini mungkin komentar

saya pertama tentang menerjemahkan karya sastra di indonesia: kagak ada

duitnya. (kecuali anda maggie agusta atau irfan korthschak, basically, a

bule—see below for a rant about native speakers—yg bisa dapat 100-120

ribu/halaman.)

mungkin perlu juga saya kasih tahu apa saja selama ini yg sudah saya

terjemahkan, supaya org ingin yg menganggap saya tidak pantas utk ngomong

panjang lebar ttg terjemahan bisa punya alasan. saya punya dua blog, yg

mungkin kalian sudah bosan mendengarnya, ini dan ini, yg berisi

terjemahan2 dari indonesia ke inggris dan dari inggris ke indonesia.

kemudian, dua bab pertama cil tadi. selain itu, saya pernah mengedit

terjemahan naskah ann kumar ttg prajurit wanita mangkunegaran dari inggris

ke indonesia dan, dan  saya kasih tahu ini cuma karena saya pikir ada

hubungannya dengan masalah menerjemahkan sastra indonesia ke dalam bahasa

inggris, saya pernah diberi tugas mengedit terjemahan buku djenar maesa

ayu, ‘mereka bilang saya monyet!,’ yg dikerjakan michael nieto garcia,

satu lagi indonesianis dari cornell. tapi saya bilang ‘diberi tugas

mengedit’ ya, karena akhirnya saya tidak pernah bisa benar2 mengedit

terjemahan ini karena masalah yg akan saya jelaskan nanti dan menurut saya

cukup penting juga diketahui para penerjemah, pengarang asli yg karyanya

diterjemahkan, juga para penerbit.

oke, udah kebanyakan melipir. sekarang soal terjemahan itu sendiri. saya

sendiri adalah penerjemah yg lebih mengandalkan perasaan daripada misalnya

buku2 teori ttg terjemahan yg menurut saya harus segera dibuang ke tempat

sampah kalau memang sempat beli. tapi ini mungkin pernyataan yg agak

menipu, karena tentu saja ‘perasaan’ saya sudah dibentuk oleh buku2 yg

selama ini saya baca dan pengalaman hidup saya (paling tidak). contoh: ‘A

motel in Kampung Bali / a little upmarket, the sign says

‘Wisma”—terjemahan saya untuk dua baris pertama puisi toety heraty

‘balada setengah baya’: ‘Di suatu losmen di Kampung Bali / agak terhormat

dengan sebutan Wisma.’ bandingkan dengan terjemahan john mcglynn ‘In a

hostel in the area of Kampung Bali, / one respectable enough to be called

a hostel.’ oke deh saya gak usah komentar ttg kenapa juga pak john

mengulangi kata hostel (‘respectable enough to be called a hostel?’ you

already said it’s a hostel!) tapi bahwa saya memilih ‘motel’ daripada

‘losmen’, dan memilih mempertahankan ‘wisma’ daripada menggantinya dengan

apalah kelihatannya dipengaruhi beberapa hal, dan bukan kamus apa yg saya

pergunakan. (soal kamus ini menarik, dari beberapa ‘kisah penerjemahan’ yg

saya baca, kelihatannya banyak penerjemah yg masih memakai kamus waktu

membaca naskah aslinya, ya? menurut saya ini agak bahaya, tapi ini saya

bahas nanti saja deh.) kelihatannya saya memilih kata motel karena saya

sering membaca ttg ‘love motel/fuck motel’ dan oke, sering juga menyewa

kamar di tempat2 seperti itu terutama karena di sini sekarang saya masih

tinggal bareng orang tua. sementara ‘wisma’ saya pertahankan karena motel2

yg sering saya datangi itu memang banyak yg memakai plang ‘wisma’ dan

waktu membaca puisi ini saya bisa melihat jelas plang itu di mata saya.

dan saya memang suka mempertahankan yg ‘visual’ di terjemahan2 saya dalam

istilah aslinya. kalau saya harus berargumen dengan pak john, saya akan

bilang, memangnya kalau ‘hostel’ yg kedua diganti dengan ‘wisma’ puisi itu

akan jadi lebih gak inggris? susah dimengerti? apa bedanya dengan eliot

memakai ‘boston evening transcript’, misalnya? apa kalau kita

menerjemahkan puisi ini ke bahasa indonesia kita akan menerjemahkan

‘boston evening transcript’ jadi ‘koran’? nggak lah neeek. ((tidak)

menerjemahkan seperti ini adalah namanya di buku2 teori penerjemahan itu

tapi seperti kata saya tadi, sudah saya buang.)

tapi ini hanya persoalan kecil dalam menerjemahkan sebuah puisi. buat saya

yg paling penting dalam menerjemahkan puisi adalah membuat terjemahan itu

jadi benar2 puisi menurut standar puisi yg memakai bahasa yg dipakai untuk

menerjemahkan puisi itu (bahasa target kalau kata buku2 teori itu, tuh

kan, buku2 itu hanya memperlambat, bahkan hanya sebuah bahasan ttg

terjemahan, jangankan terjemahannya sendiri!). untuk itu yg paling

diperlukan menurut saya adalah benar2 mengerti puisi aslinya

arti/makna/nada/alusi/semua yg ada hubungannya dengan mengerti puisi

itu-nya apa, dan penerjemahnya memang bisa menulis puisi dalam bahasa yg

dipakai utk menerjemahkan puisi itu. simplistisnya, s/he’s gotta be a

poet, too.

saya sangat tidak setuju dengan org yg bilang yg penting penerjemahnya

adalah seorang native speaker. a case in point: terjemahan john mcglynn

tadi, silakan cek sendiri seluruhnya di blog saya. what if the native

speaker was an idiot? or doesn’t give a fuck about poetry? doesn’t know

the difference between t.s. and george eliot?

untuk menerjemahkan puisi ke bahasa inggris tentu saya menggantungkan diri

pada harapan bahwa telinga saya yg sekarang sudah tiga tahun balik di

jakarta ini masih bisa mendengar apakah baris2 yg saya gubah sudah pas

kedengarannya atau belum. soal ‘pas’ ini saya tidak bisa begitu

menjelaskan. bukan cuma masalah idiomatik atau tidak. soal itu saya punya

satu tip, selain memakai kamus yg bagus (oxford dictionary of english yg

2100-an halaman paling tidak menurut saya, supaya bisa tahu lebih dari

satu macam kemungkinan arti untuk satu kata/idiom, etimologi, contoh2

idiom lain yg memakai kata itu, pengucapannya, stresnya di mana itu

penting banget menurut saya), anda bisa menggoogle frase hasil terjemahan

anda. misalnya ‘here we go round the prickly pear’ (misalnya anda gak

yakin round atau a-round, walaupun ini seharusnya sudah gak boleh terjadi

kalau memang anda mau menerjemahkan ke dalam bahasa inggris (atau mungkin

ini contoh yg jelek), dan sret, sudah pernah dipakai eliot di the hollow

men (salah satunya), bungkus. sementara, soal ‘pas’ atau tidak tadi,

sayangnya, masalahnya, you’ve just got to have a good ear for poetry.

‘an ordinary ear’ mungkin bisa juga dilatih jadi ‘a good ear’ dengan

membaca sebanyak mungkin. (kalau ‘bad ear’ sih udahlah nek ya, walaupun

kalau emang kuping kita sejelek itu kan kita gak bakalan nyadar juga,

hahaha.) bukan hanya puisi, tapi juga koran, blog, spam, iklan, rambu lalu

lintas, petunjuk jalan, manual ipod, semuanya. paling gampang memang harus

diakui, tinggal di negara yg berbahasa inggris. but that never stopped

gertrude stein, or james hamilton-paterson, or her. so, there is hope.

yg harus dilakukan juga tentu adalah memutuskan inggris mana yg mau anda

gunakan? australian? british? american? the loo, toilet, restrooms?

overseas, or abroad? mau konsisten pakai satu aja atau memang sengaja mau

mencampur adukkan? yg penting sih anda melakukannya dengan sadar. buku

teori boleh anda buang, tapi intelektualisme jangan dulu. apalagi kalau

seperti saya anda yakin memang gak punya bakat alam.

satu lagi tip, ini saya curi dari buku how to write robert olen butler

‘from where you dream,’ belilah kamus ‘oxford-duden pictorial dictionary.’

ini oke banget buat kalau kita tahu benda apa yg ingin kita tuliskan, kita

tahu bentuknya seperti apa, tapi lupa namanya apa. misalnya besi yg

mencuat di ujung pistol yg kita pakai untuk ngepasin bidikan kita itu apa

ya, tinggal lihat index, pistol, halaman 255, bang!, namanya ternyata

‘front sight atau foresight.’ (atau ‘la mira’ dalam bahasa spanyol karena

saya punyanya yg edisi spanyol, lucu juga kan buat main2, bikin nirwan

dewanto senang.)

itu masalah2 dengan bahasa yg kita pakai utk menerjemahkan. yg menurut

saya gak banyak dibahas orang dan seharusnya harus adalah, penerjemahnya

udah benar2 ngerti gak aslinya artinya apa?

pak john lagi misalnya, dapet gak dia ironi toety heraty waktu bilang

losmen itu ‘agak terhormat’? wisma memang mungkin agak terhormat daripada

losmen tapi tetep aja gak terhormat! hahaha. ada gak ironi ini di

terjemahannya? gak ada. (lucunya yg ada sekarang hanya satu jenis

penginapan, ‘hostel’, dan kalau sudah hostel ya memang ‘respectable

enough.’ bisakah kita membaca ironi di ‘enough’ di belakang ‘respectable’

itu? responsible enough, so, not too respectable really. bisa aja. kalau

mau maksa. karena nada terjemahan ini agak terlalu formal (terlalu

terhormat!) daripada nada asli toety heraty, kalaupun pak john memang

memakai ‘respectable enough’ itu karena ironinya, maybe i just don’t have

to ear to catch it, haha. saya sih berani taruhan ‘respectable enough’ itu

hanya terjemahan cukup literal dari ‘agak terhormat’.) dan itu berarti

mungkin pak john belum betul2 mengerti puisi toety heraty ini. dalam kasus

seperti ini, kenyataan bahwa pak john adalah seorang ‘native speaker’

bahasa inggris sama sekali gak ada gunanya. maybe he should’ve been a

native indonesian speaker instead, hahaha.

contoh yg agak lebih vulgar tentang bodohnya kepercayaan pada native

speaker ini ada di dalam buku terjemahan ann kumar yg saya sebutkan tadi.

di antara banyak kesalahan lain, si penerjemah menerjemahkan ‘lion’s

share’ menjadi ‘bagian singa.’ dan si penerjemah adalah seorang native

speaker bahasa indonesia. seperti saya bilang tadi, mengerti karya asli

adalah hal penting yg jarang dibahas padahal seharusnya adalah hal pertama

yg perlu dilakukan.

dan bagaimana cara membaca yg teliti (dekat?), gak perlulah saya kasih

kuliah panjang lebar. dateng aja nanti kalau nirwan dewanto ceramah, pasti

dia menyinggung soal itu (lagi).

masalah yg paling tidak di permukaan kelihatan lebih rumit terjadi di

terjemahan buku djenar itu. michael nieto garcia menerjemahkan ‘mabuk

kepayang’ menjadi ‘drunk with kepayang’ (memang italic kepayangnya).

hahahahaha. setelah selesai tertawa terbahak2 saya melihat glosari yg dia

tulis juga dan ternyata di situ ada entri panjang ttg ‘kepayang’, it’s

some sort of poisonous fruit. jadi mabuk kalau dimakan. the problem is,

‘mabuk kepayang’ is a phrase, it’s not just a thing like a wisma. ‘drunk

with kepayang’ is like an abandoned orphan, inggris bukan, bahasa

indonesia jelas nggak. menurutku sih kalau kaya gini pake french method

(eg, ‘breakfast at tiffany’s’ jadi ‘diamants sur canapé’) aja. cari idiom

yg mirip dalam bahasa inggris aja, misalnya ‘punch-drunk’ atau

‘punch-drunk with love.’

gilanya, ternyata dalam kontrak antara michael garcia dan metafor (yg

ditandantangani sebelum saya masuk metafor) disebutkan bahwa hasil akhir

terjemahan ini 100% tergantung michael nieto garcia! jadi ‘editor’

terjemahan ini sama saja dengan disuruh memotong rumput lapangan sepak

bola dengan gunting kuku!

akhirnya saya berhasil membujuk michael utk mengganti mabuk kepayang

beserta glosari yg sangat disayanginya itu. jangan tanya bagaimana. yg

jelas saya jadi curiga dia suka banget dengan frase itu hanya karena dia

sudah susah2 meriset glosari ttg kepayang itu. (yg menurut saya mungkin

malah lebih lucu kalau dimasukin di glosari edisi indonesianya, karena

siapa orang indonesia yg (masih) tahu coba kalau kepayang itu ternyata

buah?)

dan sebenarnya ini juga ada hubungannya dengan soal benar2 mengerti karya

asli tadi. seharusnya michael tahu bahwa orang indonesia pun sudah nggak

atau asal idiom ini, atau bahwa ini adalah sebuah idiom, saya misalnya

kalau mendengarnya langsung terbayang tokoh cewek kartun dengan bola mata

berbentuk jantung hati yg keluar masuk dari rongganya. toing toing toing.

dan, seperti ‘lion’s share’ tadi, (nearly) dead metaphors semacam ini

lebih baik kalau dicari padanan idiomnya saja dari pada diterjemahkan.

jadi, buat para penerbit dan pengarang (apalagi editor), hati2 jugalah

kalau teken kontrak penerjemahan. jangan sampai ada kontrak seperti di

atas hanya karena terlalu percaya dengan legenda kedigdayaan ‘native

speaker.’

satu lagi masalah yg buat saya sendiri menyusahkan adalah begini: (contoh

aja langsung) ‘ranjang memang sering rusuh dan rawan kekuasaan’ (dari

puisi jokpin, ‘tahanan ranjang’). membacanya sekilas sih, saya tahu ‘rawan

kekuasaan’ dalam konteks puisi ini artinya apa, tapi kalau dipikir2 lagi,

sebenarnya frase ini sangat vague. kira2 kan artinya ‘rawan jadi (r)anjang

perebutan kekuasaan’. kita bisa membayangkan dari dua kata itu bambang tri

dan tommy s. timpuk2an mobil timor mainan. tapi arti itu tadi sebenarnya

tidak ada dalam dua kata (atau gabungan dua kata) itu! frase itu, yg

tadinya, dengan segala macam gambar yg dipancingnya muncul di kepala kita,

kelihatan seperti kata benda, yg menunjukkan sesuatu yg konkrit,

sebenarnya lebih seperti kata sifat, yang seperti biasanya kata sifat,

tidak jelas dan rawan misinterpretasi (ha!).

tentu ‘rawan kekuasaan’ ini tidak bisa dinilai hanya dari artinya saja,

‘kekuasaan’ berima dengan ‘gentayangan’ di baris berikutnya, dan memang

ini bukan satu2nya masalah saya dengan frase ini, masalah saya yg lebih

besar, terus bagaimana menerjemahkannya?

saay pikir2 mungkin saya akan menerjemahkan baris ini jadi misalnya, ‘in

bed, people riot and dictators outgun each other.’ (kemudian baris

berikutnya, ‘it’s full of horror and terror, a psycopath goes on rampage

under the sheets’ (‘penuh horor dan teror. di sana ada psikopat

gentayangan’)) dengan begini memang saya menambahkan banyak kata (gambar)

yg lebih konkrit, yg saya rasa diperlukan dalam versi (puisi) bahasa

inggrisnya. ‘dictators’, ‘under the sheets.’ tapi hanya dengan begitu saya

merasa bisa setia kepada ‘arti’ puisi aslinya.

(saya rasa tidak begitu perlu dikatakan kita tidak mungkin setia kepada

bunyi puisi aslinya. kepada nada harus, marah ya harus diterjemahkan

marah, tapi bunyi, musik, yg disusun kata2 itu sendiri tidak mungkin

ditiru. seperti versi unplugged sebuah lagu napalm death, kemarahan dan

kegarangan lagu aslinya tetap bisa dirasakan (kalau orangnya jago), bahkan

mungkin bisa jadi lebih menarik (bayangkan ironi dari petikan merdu sebuah

gitar kopong dan lirik anti sosialnya), tapi bunyinya memang harus lain

bukan?

asal bekerja sama dengan penulis aslinya (asal dia setuju), saya rasa

perubahan/penambahan2 seperti yg saya lakukan di atas seharusnya memang

dilakukan. borges dan penerjemah inggrisnya sering melakukan hal ini, jadi

sebenarnya mengoreksi versi spanyolnya! (contoh aja, lihat juga ‘koreksi’

dalam terjemahan novel2 rusia nabokov yg dia lakukan sendiri atau

bersama/oleh anaknya, dmitri.)

atau kalau penulisnya tidak setuju, anda bisa lebih menggila lagi dan

menulis ‘imitations’/saduran ala robert lowell/chairil.

(saya pernah tanya sama max lane, penerjemah pramoedya (kebetulan oom

saya), bagaimana dia dulu menerjemahkan sesuatu yg mirip ‘rawan kekuasaan’

tadi di buku2 pramoedya (btw, terjemahan arok dedes-nya baru terbit,

banyak di kinokuniya), dan jawabannya nyebelin, ‘karena pramoedya, ya

nggak ada yg kayak gitu.’ karena saya suka nggak percaya, saya cek, dan

memang sih, paling tidak di tetralogi buru, bahasa pramoedya memang sangat

konkrit.)

pada akhirnya buat saya sendiri menerjemahkan puisi (terutama) selalu jadi

perjuangan antara ingin setia dan ingin menyeleweng. (what did the

italians say again, saut?) itu baru yg dari indonesia ke inggris, yg dari

inggris ke indonesia nantikan di bagian dua artikel ini.

mikael.

(2)
sori sigit, waktu itu saya menjanjikan akan ada bagian dua dari
artikel saya ttg terjemahan. sayangnya saya lagi gak ada waktu. tapi
ini ada artikel lama yg mungkin bisa jadi ilustrasi ttg masalah
menerjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa indonesia. buat akmal dan
yg lain2 yg udah pernah baca, well, tough luck, hehehe, saya ingin
mulai mengikuti jejak saut yg tidak suka buang kata2 dan rajin
merecycle esei2nya.

enjoy.

*boss kejam can’t afford prada eh?*

the devil wears prada adalah sebuah pseudo-memoar yang menjual
voyeurisme ke dalam dunia majalah fashion, seperti dunia tanpa koma
tapi better dressed. si devil adalah karikatur anna wintour, pemred
vogue yang terkenal galak. pemilihan judul bahasa inggrisnya ‘the
devil wears prada’ saya rasa juga menjual dua hal ini, kegalakan anna
wintour, diejawantahkan dengan hiperbola ‘the devil’ dan keglamoran
dunia majalah fashion, dicontohkan, biar spesifik dan terasa lebih
real – syarat utama voyeurisme, the more details the better – dengan
seragam fashionista awal 2000-an: prada. karena itu argumen salah
seorang di thread ini bahwa ‘bos paling kejam etc.’ lebih menohok
sebenarnya salah. ‘bos etc.’ tidak lebih menohok dalam idiom
indonesia, hanya lebih general, lebih umum, akan dimengerti siapapun
juga termasuk target market utama gramedia: the lowest common
denominator. dua hal yg ingin dijual judul aslinya tadi jadi hilang
(paling tidak dalam judul terjemahannya, saya belum baca isinya).
kalau memang buku aslinya juga bermaksud menggaet si lowest common
denominator tadi tentu mereka – lauren weisberger dan editornya –
bisa saja menamai buku mereka ‘the boss from hell’ tapi itu tidak
mereka lakukan bukan? memang ada alasannya kenapa harus ada ‘the
devil’ dan kenapa ia harus memakai baju prada. jadi menurut saya
terjemahan ‘bos paling etc.’ tadi tidak ada hubungannya sama sekali
dengan mencoba mencari idiom indonesia yg paling menohok untuk ‘the
devil wears prada’, kalau untuk mencari judul yg paling menohok pasar
ya iyalah.

saya rasa usul ‘iblis modis’ td cukup bagus juga. paling tidak si
iblis belum lenyap entah ke alam mana. modis agak terlalu general,
kurang merangsang keingintahuan orang. memakai ‘prada’ di judul asli
alasannya saya rasa justru utk menarik rasa ingin tahu pembaca kelas
c- etc. yg salah satu org di thread ini bilang bukan konsumen buku
ini. ah, justru merekalah yg paling banyak membeli buku ini. utk
menikmati prada tanpa harus (mampu) membelinya. seperti juga majalah
dewi paling banyak dibeli mbak2 kantoran, atau madame bovary membaca
majalah2 fashion terkiwari terbitan paris di kamar kecilnya di ndeso
yonville-l’abbaye. detail seperti merek sangat penting utk menarik
para voyeurs. cf. penyebutan merek2 yg sampai seperti katalog di
american psycho. ‘the devil wears clean cut a-line skirts in sombre
colours like black and olive green’ jelas tidak akan menarik pembaca
utk masuk ke dunia majalah fashion sebetapapun menariknya sebenarnya.
perlu sebuah umpan, seperti dunia tanpa koma perlu dian sastro biar
ratingnya nggak ikutan koma (tetep aja koma). ah ya, bagaimana kalau
simbol kemewahan klasik itu: prada!

jadi, bagaimana ‘iblis bergaun prada’ misalnya?

saya sendiri mendukung terjemahan bebas. yg penting si penerjemah
tahu persis maksud2 si penulis asli. ‘bos paling etc.’ – kalau ini
bukan produk ketakutan tidak laris seperti saya jelaskan di atas ya
berarti produk ketidakmengertian penerjemahnya ttg maksud dan tujuan
judul aslinya. setelah tahu itu, silakan cari idiom yg paling pas
dalam bahasa sasaran. idiom di sini bukan hanya masalah bahasa, kata,
tapi juga citra, budaya. saya akan mendukung misalnya judul ‘iblis
berkaca mata jackie o.’ kalau memang kacamata hitam raksasa jackie o.
yg tak pernah lepas dari muka anna wintour adalah simbol high fashion
di indonesia (misalnya). gantilah kata2nya, terserah, tapi jgn sampai
imajinya hilang.

banyak juga sebenarnya terjemahan judul yg bagus di indonesia.
misalnya ‘yang maha kecil’ untuk arundhati roy’s ‘the god of small
things’ terbitan yayasan obor. itu sangat bagus. seluruhnya idiom
indonesia, tapi imaji dan maksudnya dalam bahasa asli tersampaikan
semua ke dalam bahasa sasaran. bunyinya pun enak (tapi ini masalah
lain lagi).

berikut ini beberapa contoh terjemahan judul yg saya pilih random
dari rak buku saya:
– ‘pertempuran penghabisan’ untuk hemingway’s ‘a farewell to arms’ –
pustaka jaya (bagus juga, aliterasi p-p-nya juga artsy, kalau
diterjemahkan terlalu harfiah ‘selamat tinggal meriam’ misalnya, malah
jadi gak ada artinya, karena dalam bahasa indonesia tidak ada idiom
‘selamat tinggal meriam’ itu, dan kalau mau menciptakan idiom baru,
‘selamat tinggal meriam’ ini juga gak jelas2 banget maksudnya apa)
– ‘keangkuhan dan prasangka’ untuk jane austen’s ‘pride and
prejudice’ – pantja simpati (harfiah sekali tapi justru mungkin tidak
seakurat yg dibayangkan penerjemahnya, ‘keangkuhan’ terlalu sempit
untuk ‘pride’ – ‘gengsi’?)
– ‘kota kecil di padang rumput’ untuk laura ingalls wilder’s ‘little
town on the prairie’ – bpk gunung mulia (bagus, djokolelono memang
penerjemah paling bagus thn. 80-an dan banyak sekali karyanya. tapi
di sini ada masalah ‘untranslatables’ itu: prairie itu sebenarnya
seperti apa? apakah mungkin diterjemahkan? apakah ada padanannya di
indonesia? mirip dengan problem kata ‘bush’ (australian) misalnya di
terjemahan puisi2 australia oleh sapardi djoko damono di buku
‘mendorong jack kuntikunti’)
– ‘makna sebuah nama’ untuk jhumpa lahiri’s ‘the namesake’ – gramedia
pustaka utama (problem gramedia itu tadi lagi – menjelaskan (yang
tidak perlu dan tidak seharusnya dijelaskan). seorang anak amerika
etnik india diberi nama gogol, penulis favorit ayahnya, anak itu tak
suka namanya, tak suka menjadi namesake nikolai gogol. jadi memang
novel ini ttg nama, apa artinya untuk si penyandang nama itu, apakah
ada artinya, etc. jadi ya, novel ini memang tentang makna sebuah
nama. tapi judul aslinya sengaja menyembunyikan tema besar ini. ini
adalah sesuatu yg mungkin pengarangnya pikir baru pantas anda ketahui
setelah baca bukunya. judul terjemahan indonesianya sebuah spoiler
sebenarnya! kalau memang tidak bisa menemukan padanan untuk kata
‘namesake’ dalam bahasa indonesia, kenapa tidak diberi judul ‘gogol’
saja misalnya? the name in the namesake kan ya gogol itu.)

mikael.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: