4. Wawan Eko Yulianto

saudara sekalian,

penerjemahan saya diawali oleh takdir. benar-benar takdir. takdir
memilih kos-kosan mempertemukan saya dengan abdul karim (lebih dikenal
dengan abdul kareem terjemahan) yang pada suatu hari sabtu mengajak
saya jadi penerjemah bawahannya sambil mengatakan, “sudahlah, gak usah
takut, yang penting kemeruh (sok tahu) saja.” maka penerjemahan pun
dimulai sejak hari itu.

agak sama halnya dengan penerjemahan sastra. waktu itu, saya sedang
menyekripsikan novel james joyce a portrait of the artist as a young
man. karena ternyata buku itu sulit, tapi saya terlanjur cinta, dan
saya terlalu gengsi untuk ganti judul, akhirnya saya cari cara untuk
sedikit lebih memahami buku tersebut, yaitu: menerjemahkan
bagian-bagian yang saya suka. di tengah jalannya skripsi, saya iseng2
menawarkan diri ke jalasutra untuk menerjemahkan buku-buku james
joyce. kebetulan juga jalasutra sedang berencana menerbitkan buku itu
dan belum dapat penerjemah. setelah memeriksa sampel terjemahan saya,
mereka pun bilang oke. akhirnya, saya kerjakan a portrait of the
artist as a young man dan dubliners.

setelah kuliah selesai, saya sempat meninggalkan sebentar dunia
nerjemah karena mulai pekerjaan baru sebagai guru, dan
sekurang-kurangnya enam bulan pertama saya beradaptasi dengan ritme
baru hidup saya yang tiba-tiba jadi teratur (alah, kok jadi liris
begini!!!). perkenalan dengan mas anwar holid, pada suatu sore setelah
saya baca tulisanya tentang david lurie (yang ternyata terjemahan
indonesianya dikerjakan oleh saudara sesama apsas), membuat tersulut
lagi semangat saya untuk menerjemahkan. setelah itu saya sempat
menerjemahkan satu novel dan kali itulah saya lumayan banyak mendapat
masukan dari mas wartax seputar terjemahan.

pada akhir masa saya menjadi guru, awal tahun 2006, saya dapat order
dari gramedia untuk menerjemahkan memoar sidney sheldon. pada awalnya
saya kurang suka sama yang namanya sidney sheldon dan novel-novel pop.
yah, waktu itu saya terlalu sombong untuk membaca novel-novel pop.
tapi, setelah membaca memoar sidney sheldon itu, saya menemukan adanya
sesuatu yang penting dalam jagad novel pop. akhirnya, saya pergi ke
persewaan buku dan meminjam novel-novel sidney sheldon. benar saja,
saya temukan adanya pesona yang membuat saya enggan berhenti sebelum
selesai. ini dia, menurut saya, ini dia yang saya cari-cari dari novel
sastra. tak cuma sidney sheldon, saya pun sempat serius baca michael
chricton pada hari-hari itu. saya juga banyak berdiskusi dengan pak
arif subiyanto (penerjemah the highest tide karya jim lynch, state of
fear karya michael crichton, dan sebuah karya paulo coelho yang harus
saya rahasiakan judulnya, :D). menurut saya, sejauh ini beliau inilah
penerjemah yang paling akurat cengkeramannya ke bahasa inggris, dan
super natural bahasa Indonesianya). akhirnya, setelah merasa agak
siap, saya pun menerjemahkan the other side of me. “bangunnya
kesadaran” saya ini saya tuliskan dengan cengengesan dalam sebuah
posting di blog saya
(http://berbagi-mimpi.blogspot.com/2007/04/dosa-besar-dalam-kepemimpianku-

sebuah.html)

setelah benar-benar berhenti mengajar, saya pun fokus nerjemah 100
persen. maksudnya, baik di kantor maupun di rumah, heheheh… dan
akhirnya sampailah sekarang…

oh ya kang sigit, kalau soal tahan dan tidak tahan menghadapi teks,
itu terkait sama kecintaan sama si teks.

soal kritikan dari penulis muda surabaya itu, wah, saya tidak bisa
banyak komentar. saya yakin sudah menerjemahkan dengan semaksimal
mungkin. tapi jika demikian penangkapan dari pembaca, saay toh tidak
bisa menyetir pembaca. saat ini, saya masih ngotot ingin terus belajar
dan menikmati setiap teks yang saya kerjakan. pelan… pelan…
(mungkin ini alibi atas kelambatan saya dalam menerjemah, hehehe…).
saya cobalah memuaskan pembaca saya biar tanpa harus menyetir mereka,
mereka bisa menikmati terjemahan saya. dengan teks non fiksi, insya
allah saya sudah mulai bisa melakukannya (ciyyyeee… :D), tapi dengan
sastra… well, it’s a neverending struggle. untungnya saya kenal
dengan mas anwar holid yang akurasi dan koreksinya sangat membantu
dan, tak lupa, saudara saya di milis ini yang cuma satu atau dua kali
muncul, salahuddien gz, yang terjemahannya sudah–pada sebagian
besarnya–benar-benar seolah melupakan struktur bahasa inggris dan
menghadirkan sastra yang benar-benar lokal (seperti dalam the famished
road).

begitulah saudara-saudara. eh sori lho ya. di antara teman-teman
mungkin saya yang paling junior urusan penerjemahan, tapi nulisnya
paling banyak. hehehe… maklumlah dasarnya memang seneng ngomong. dan
lagi… suasana hari-hari menjelang lebaran ini sangat liris. sih alah.

oh ya, terakhir kali, sekarang di sela-sela terjemahan saya masih
mencoba menyelesaikan satu naskah yang menjadi cita-cita saya…
semoga bisa selesai…. dengan memuaskan…. amin…

😀

salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: