1. Anton Kurnia:
salam,

mas sigit, saya jadi malu hati diperbandingkan dengan
lu hsun. saya tak ada apa-apanya dibanding beliau.

saya kira semua jenis pekerjaan itu kalau dilakukan
dengan cinta pasti akan menyenangkan dan insya Allah
bermanfaat tidak hanya bagi yang bersangkutan.

awal mula menerjemahkan saya lakukan karena mencintai
sastra dan sebagai sarana belajar teknik penulisan
dari para empu sastra dunia, khususnya cerpen. sebelum
menerjemahkan buku, saya lebih dulu menerbitkan cerpen
terjemahan di koran-koran dan majalah semasa kuliah.

cerpen terjemahan pertama saya yang dimuat di koran
berjudul “keberuntungan” dari cerpen “luck” karya mark
twain (dimuat pikiran rakyat, mei 1998). lucunya, saya
baru sadar terjemahan itu karya saya setelah
membacanya dua paragraf di sebuah perpustakaan umum di
bandung (karena nama penerejmah kan ditulis kecil di
bagian akhir naskah).

seminggu kemudian cerpen terjemahan saya dari karya
guy de maupassant, “senyum schopenhauer” dimuat lagi
di koran yang sama. lalu bulan depannya kompas memuat
terjemahan saya atas cerpen jorge luis borges, “bentuk
pedang.” menyusul cerpen-cerpen lainnya.

sejak itu saya makin menyukai aktivitas menerjemahkan
dan mendapat banyak manfaat darinya untuk proses
kreatif saya sendiri.

sayangnya, saat itu saya tak punya komputer dan tak
punya tinggal tetap, hidup bohemian. kadang saya
mengetik di tempat kos pacar, di rumah teman, di
tempat penyewaan komputer, atau di sekretariat
organisasi mahasiswa tempat saya sering menumpang
tidur. akibatnya, banyak karya awal saya yang tak
sempat diselamatkan tercecer, hilang, dimangsa
virus…

menerjemahkan puisi tentu lebih sulit daripada
menerjemahkan prosa. terutama apabila puisi itu
berima. kadang kita dipaksa memilih antara makna dan
rima walaupun tentu saja seorang penerjemah seharusnya
tidak boleh “mengarang.”

satu dari sangat sedikit terjemahan puisi saya yang
pernah dipublikasikan adalah canto pertama “inferno”
karya dante alighieri (dari the divine commedy).
cuplikan puisi itu pernah dimuat jawa pos minggu,
akhir 2002 atau awal 2003 (saya tak ingat persisnya).

sayangnya, saya sudah tak punya kliping koran maupun
soft-file-nya karena keduanya ikut musnah dilalap api
saat tempat kos saya di bandung (juga komputer,
buku-buku, kliping, dokumen legal pribadi, dan segala
harta benda) terbakar habis februari 2003 (waktu saya
tinggal ke jakarta untuk membantu persiapan pesta
ulang
tahun dan peluncuran buku bung pramoedya).

selamat menerjemahkan puisi!

anton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: